Mon. Sep 21st, 2020

Naratama Online

Cepat, Tepat dan Tuntas

DIDUGA PENEBANGAN HUTAN PINUS ILEGAL SEMAKIN MARAK DI KABUPATEN TOBA

2 min read

Toba, naratamaonline

Penebangan kayu pinus terindikasi adanya dugaan pembalakan liar, di kawasan desa Silamosik I, Pardenggaran, Nalela Kecamatan Porsea Kabupaten Toba karena seolah-olah tidak memiliki izin atau ilegal.

Pantauan NaratamaOnline Toba, pada Kamis (18/06/2020) dilapangan penebangan kayu pinus tepatnya di desa Silamosik I kecamatan Porsea Kabupaten Toba, diketahui telah berlangsung dua bulan dengan menggunakan alat berat.

Sementara untuk menuju lokasi, telah dibuka jalan baru untuk memudahkan proses mengangkut dan menebang kayu pinus dari lokasi hutan tersebut.

Parahnya lagi meski truk-truk colt diesel pengangkut kayu itu, dipastikan akan merusak jalan karena kelebihan tonase, Pemerintah Kabupaten Toba maupun instansi terkait diduga terkesan tidak peduli terhadap pembalakan hutan pinus tersebut.

Info yang dihimpun dari lapangan bahkan hasil dari konfirmasi media ini terhadap Kades Silamosik I Resta Nainggolan, penebangan ini dilakukan dengan dalih pinus milik warga desa setempat.

“Itu tidak perlu izin penebangan sebab itu hutan masyarakat, surat keterangan tanah (SKT) lengkap kok bisa kita tunjukkan, jadi tidak ada masalah terkait penebangan kayu pinusnya” ujar Kades.

Hasil penelusuran sebelumnya Rabu (17/06/2020), dari siang hingga malam kayu-kayu itu dilangsir dari lokasi hutan desa Silamosik I tampak melintasi jalan desa Nalela dan jalan desa Patane, menggunakan truk coltdiesel.

Namun terdahulu kayu pinus itu dilangsir ke tempat penumpukan sementara (TPS), di desa Nalela kecamatan Porsea kabupaten Toba sebelum diangkut keluar dari daerah kabupaten Toba guna untuk diperjual belikan. Sementara itu, sekretaris ormas laskar merah putih (LMP) kabupaten Toba Harry J Manurung saat dikonfirmasi di sekretariatnya di Sibadihon-Bonatualunasi , menyatakan “Penebangan kayu itu sudah berlangsung dua bulan serta menggunakan alat berat, dimana Herman Sinaga dan Gayus Tambunanlah nama masing-masing dari pengusahanya.

Ada dugaan untuk memuluskan aksinya kedua pengusaha tersebut di back-up oknum aparat ataupun oknum pejabat dari instansi terkait, dan ditakutkan karena aktivitas penebangan liar itu, akan berpotensi merusak ekosistim hutan, bencana alam seperti banjir bandang, tanah longsor, pemanasan global, bahkan serangan hewan tertentu terhadap tanaman pertanian warga sekitar.

Maka untuk menjaga kelestarian cagar alam dikawasan Toba ini, diminta kepada pemerintah Kabupaten agar segera menghentikan penebangan kayu tersebut” papar Harry J Manurung.

Selanjutnya ormas laskar merah putih (LMP) kabupaten Toba, “Kita akan mendesak dinas terkait supaya menjalankan tahapan-tahapan yang harus terlaksana sesuai dengan Permenhut nomor 44 Tahun 2012 tentang pengukuhan kawasan hutan di Sumatera Utara.

Penunjukan kawasan hutan sesuai SK Menhut RI bersama lampiran peta pada titik koordinatnya, mana batas alih pungsi hutan (APL), mana hutan produksi konservasi (HPK), hutan produksi terbatas (HPT), hutan lindung (HL), dan mana hutan suaka alam (SA) atau hutan marga satwa sebagai hutan-hutan konversi secara defenitif lengkap” tegasnya dengan mantap. (F.M)

redesained by j@uhar | Newsphere by AF themes.