Fri. Oct 2nd, 2020

Naratama Online

Cepat, Tepat dan Tuntas

Cegah Perokok Pemula, Masyarakat Kota Bogor Dukung Perda KTR Bogor

3 min read

BOGOR, naratamaonline

Berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2018 oleh kemenkes, Pevelensi perokok anak usia 10-18 tahun di Indonesia mencapai 9,1% naik yang sebelumnya 7,2% pada tahun 2013 padahal target RPJMN Pemerintah Pusat ingin menurunkan menjadi 5,4% maka dalam hal ini pemerintah pusat telah gagal. Begitu pula di Kota Bogor menurut hasil Survey yang dilakukan oleh Universitas Indonesia, menunjukan sebanyak 21,4% anak merokok dan 82% menyatakan merokok karena melihat iklan dan display.

“Meningkatnya prevalensi perokok ini sejalan dengan dengan gencarnya melakukan Iklan, promosi dan sponsor rokok dengan bebas dimana-mana, yang jelas-jelas menargetkan anak-anak dan remaja untuk menjadi perokok.” Kata Bambang Priyono, Ketua No Tobacco Community (NOTC), Rabu (19/2/20).

Kita melihat Iklan-iklan yang menyesatkan, Promosi yang dengan jelas memperlihatkan harga rokok yang sangat murah yang akan membuat anak-anak tertarik untuk membelinya. Serta kegiatan atau event-event yang disponsori oleh produk rokok yang melibatkan anak-anak dan remaja didalamnya seperti dalam konser music, olahraga, film dll. Tutur Bambang

Selain itu Industri rokok melakukan media Iklanya melalui pemajangan Penjualan rokok ditempat-tempat penjualan sehingga pajangan rokok terlihat indah dan bagus sehingga menarik untuk dibeli dan lagi-lagi ini adalah-anak dan remaja lah yang menjadi targetnya. Padahal sudah jelas-jelas dalam PP 109 tahun 2012 bahwa iklan, promosi dan sponsor rokok tidak boleh melibatkan maupun menargetkan anak-anak dan remaja.

Lebih lanjut Bambang menyatakan bahwa Pemerintah Kota Bogor memiliki kemauan yang sangat serius dalam melindungi anak-anak dan remaja sebagai generasi penerus dari akibat buruk mengkonsumsi rokok. Saya yakin kita semua tau bahwa mengkonsumsi rokok itu sangat tidak bermanfaat, dilihat dari segi kesehatan sudah jelas dalam bungkusnya pun sudah digambarkan bagaimana akaibatnya, belum lagi dari segi ekonomi bagaimana rokok itu sangat merugikan dan salah satu factor dalam menyumbang kemiskinan.

“Maka dari itu dengan adanya Peraturan Daerah tentang Kawasan tanpa Rokok di Kota Bogor adalah salah satu tujuannya untuk mencegah perokok pemula. Tentunya hal ini sejalan dengan tujuan pemerintah pusat yang ingin menurunkan prevalensi perokok pada anak namun ternyata gagal”. Paparnya.

Dalam hal ini Pemerintah Kota Bogor mengambil langkah yang tepat dengan adanya Perda nomor 10 tahun 2018 tentang Perubahan Peraturan Daerah nomor 12 tahun 2009 tentang Kawasan Tanpa Rokok. Peraturan ini adalah dalam rangka pengendalian konsumsi produk tembakau terutama pada anak-anak dan remaja karena Industri Rokok ingin menambah Konsumen rokok dari kalangan remaja, sedangkan Pemerintah ingin menurunkan Perokok pemula yaitu anak-anak dan remaja.

Perda KTR ini sama sekali tidak menekan hak berusaha pedagang, ingat yang diatur disini adalah larangan memajang rokok, tidak melarang berjualan rokok, Rokok adalah produk yang tidak normal karena perlu dikendalikan dalam produksi begitu juga penjualanya agar anak-anak tidak ikut mengkonsumsi rokok yang mempunyai banyak pengaruh buruk dan negative lainya. Pedagang masih boleh menjual dan memajang dengan bebas barang-barang dangangan lainya seperti makanan, minuman, sembako dan lain-lain yang lebih bermanfaat lagi. jadi dari puluhan atau mungkin ratusan dan pokoknya dari macam-macam barang yang didagangkan hanya satu yang diatur dilarang memajangkan dalam perda KTR ini yaitu rokok. Jadi sangat tidak mungkin pedagang ini dirugikan.

“Saya tegaskan lagi dalam Perda KTR ini, dari 1000 jenis barang dagangan hanya 1 yang tidak boleh dipajang, dari 100 jenis barang dagangan hanya 1 yang tidak boleh dipajang dan dari 10 jenis barang dagangan hanya 1 yang tidak boleh dipajang. Yaitu rokok. hanya 1 (satu) barang yang tak berguna ini”. Ujar Bambang. (Gtg)

redesained by j@uhar | Newsphere by AF themes.