Tue. Jul 14th, 2020

Naratama Online

Cepat, Tepat dan Tuntas

Banjir Nabi Nuh: Ibrahim, Luth, Nuh Dan Israel Adalah Alien??? (habis)

5 min read

Kajian KH Fahmi Basya memang sangat kontroversial. Pendapatnya sangat berbeda dengan tafsir ‘Banjir Nabi Nuh’ lainnya. Nabi Nuh dikatakan bukan berasal dari bumi, tapi berasal dari suatu planet yang sudah sangat tua. Dengan kata lain, Ibrahim, Luth, Nuh dan Israel adalah makhluk non bumi alias alien.

KH Fahmi Basya menafsirkan air bah sebagai kiasan bencana besar yang melanda seluruh planet itu. Bencana yang sangat dahsyat memancar dari permukaan planet dan langit-langit serta bergelombang laksana gunung. Ia menafsirkan sebagai kejadian matinya sebuah planet yang didahului dengan ledakan dahsyt (bencana). Sebuah supernova.

Sedangkan kapal Nabi Nuh ditafsirkan sebagai wahana yang dapat mengapung melintasi keluar batas ruang dan waktu yang tidak dapat dibayangkan oleh manusia saat ini. Wahana itu mendarat di Gunung Judi (Gunung Ararat). Paparan KH Fahmi Basya ini dapat dimintakan melalui email fahmi-basya@telkom.net (tahun 2009).

KH Fahmi Basya menuliskan, Nabi Nuh adalah rasul terakhir di planet itu yang dimusnahkan, karena mendustakan rasul-rasul terdahulu. KH Fahmi menerjemahkan Surat Asy Syuara ayat 105 sebagai berikut: “Kaum Nuh telah mendustakan rasul-rasul” (sebagai perbandingan tafsir ditampilkan terjemahan Depag RI terbitan Toha Putra Semarang – Kaum Nuh telah mendustakan para rasul).

Sedangkan Nabi Nuh adalah rasul pertama yang diutus ke bumi. Menurut Wikipedia, Nuh adalah Rasul pertama yang diutus ke bumi, sedangkan Adam, Syits dan Idris yang diutus sebelumnya hanya sebatas Nabi saja.

Selain Nabi Nuh, diutus juga Ibrahim ke planet itu. Surat Al Hadid ayat 26: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim, Kami jadikan pada generasi kedua-duanya Kenabian dan Kitab, maka dari mereka ada yang terpimpin, tetapi kebanyak dari mereka orang-orang yang fasiq” (Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim dan Kami jadikan kepada keturunan keduanya Kenabian dan Al Kitab, maka di antara mereka ada yang menerima petunjuk dan banyak di antara mereka fasiq – terjemahan Depag RI terbitan Toha Putra Semarang).

Jika Nabi Nuh berada di planet tua yang hancur, begitu pula dengan Nabi Ibrahim. Jadi tidak mungkin Nabi Ibrahim lahir setelah Nabi Nuh. Alasannya golongan yang ditenggelamkan dalam kisah Nabi Nuh termasuk di dalamnya ada golongan Ibrahim. KH Fahmi menafsirkan Surat Ash Shoffat ayat 82-83: “Kemudian Kami tenggelamkan yang lain, dan sesungguhnya dari golongannya adalah Ibrahim” (Kemudian Kami tenggelamkan orang-orang yang lain. Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh) – terjemahan Depag RI terbitan Toha Putra Semarang).

Jika Nabi Ibrahim di planet itu, demikian juga dengan Nabi Luth. Karena keduanya bersaudara. Tapi dimanakah Nabi Ibrahim dan Nabi Luth saat terjadi kehancuran planet? Apakah sudah meninggal?

KH Fami Basya menyebutkan, saat kehancuran planet itu, Nabi Ibrahim dan Nabi Luth sudah lama pergi ke Rabbi. Ini ditafsirkan dari surat Al Ankabut ayat 26: “Maka telah beriman kepadaNya Luth, dan ia berkata aku hendak pindah ke Rabbiku, sesungguhnya Dia penakluk yang bijaksana” (Maka Lut membenarkan (kenabian) nya. Dan berkatalah Ibrahim: Sesungguhnya aku akan berpindah ke (tempat yang diperintahkan) Tuhanku (kepadaku); sesungguhnya Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana – terjemahan Depag RI terbitan Toha Putra Semarang).

Dan Surat Ash Shoffat ayat 99: “Dan ia berkata: Sesungguhnya aku hendak pergi ke Rabbiku. Dia akan bimbing aku” (Dan Ibrahim berkata: Sesungguhnya aku akan pergi menghadap pada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku – terjemahan Depag RI terbitan Toha Putra Semarang).

Pergi atau pindah ke Rabbi, menurut KH Fahmi bukan menuju Allah SWT, tapi ke suatu tempat. Kepergian, pindah dan Rabbi adalah suatu tempat yang ditafsirkan oleh KH Fahmi dari Surat Al Anbiya ayat 71: “Dan Kami selamatkan dia dan Luth ke bumi yang Kami beri perlindungan padanya untuk alam seluruhnya” (Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Lut ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia – terjemahan Depag RI terbitan Toha Putra Semarang).

Tak diceritakan oleh KH Fahmi Basya dimana letak planet tua itu. Tapi KH Fahmi menjelaskan perbedaan waktu yang terjadi di planet tua dan bumi. 1 hari di bumi sama dengan 1.000 tahun di planet tua. Ini ditafsirkan KH Fahmi dari Surat Al Hajj ayat 47: “Dan mereka minta kepadamu rahasia bencana, padahal tidak Allah menyalahi janji Nya, dan sesungguhnya sehari di sisi Rabbimu, seperti 1.000 tahun dari apa yang kamu hitung” (Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu – terjemahan Depag RI terbitan Toha Putra Semarang).

Sedangkan waktu tempuh dari planet tua ke bumi dihitung KH Fahmi selama 50 ribu tahun berdasarkan waktu planet tua atau 50 hari berdasarkan waktu bumi. Ditafsirkan KH Fahmi dari Surat Al Maarij ayat 1-4: “Bertanya seorang penanya tentang bencana yang akan sampai. Untuk orang kafir tidak ada baginya sembarang penolak, dari Allah yang mempunyai tangga naik. Naik Malaikat dan ruh-ruh kepada Nya dalam satu hari yang ukurannya 50 ribu tahun” (Seseorang peminta telah meminta kedatangan azab yang bakal terjadi, untuk orang-orang kafir, yang tidak seorang pun dapat menolaknya, (yang datang) dari Allah, yang mempunyai tempat-tempat naik. Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun – terjemahan Depag RI terbitan Toha Putra Semarang).

Sehingga, saat Nabi Ibrahim baru tinggal sehari di bumi, di planet tua itu sudah berlalu waktu selama 51.000 tahun. Dalam rentang waktu sebanyak itu, tentu sangat banyak kemajuan teknologi yang dicapai di planet tua itu. Kebudayaannya sudah sangat tua.

Nabi Nuh dan kelompoknya yang selamat mendarat di Gunung Judi (Gunung Ararat). Mereka juga membawa kebudayaan tua dan peradaban yang sangat maju. Mereka yang selamat itu menurunkan bani Israel. Ditafsirkan KH Fahmi dari Surat Al Israa ayat 2-3: “Dan Kami beri kepada Musa Kitab, dan Kami jadikan dia petunjuk untuk Bani Israel: Jangan kamu jadikan selain daripada Ku sebagai penolong, hai anak cucu orang yang Kami angkat bersama Nuh! Sesungguhnya ia itu seorang hamba yang penerima kasih” (Dan Kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) dan Kami jadikan kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israel (dengan firman): Janganlah kamu mengambil penolong selain Aku, (yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa  bersama-sama Nuh. Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur – terjemahan Depag RI terbitan Toha Putra Semarang).

Soal penemuan bangkai Kapal Nabi Nuh, paparan KH Fahmi Basya menyebutkan beberapa keanehan jika kapal itu berasal dari bumi. Pertama, bangkai kapal itu dinyatakan terbuat dari kayu jati yang mengandung banyak kapur. Padahal kayu jati kapur hanya terdapat di Pulau Jawa, Indonesia. Apakah Nabi Nuh berasal dari Jawa?

Kedua, hasil isotop C14 (radiokarbon) yang diukur pada tahun 2000 M menyebutkan berumur sekitar 4.000 tahun yang lalu atau sekitar tahun 2000 SM. Catatan literatul menyebutkan zaman Nabi Nuh sekitar tahun 3993-3043 SM dan Nabi Ibrahim sekitar tahun 1996 – 1822 SM. Kenapa kapal itu dibuat di zaman Nabi Ibrahim?

Tafsiran ini tentu teramat sangat kontroversial. KH Fahmi Basya menyadari itu. Dalam paparannya dituliskan, cerita model begini adalah baru bagi masyarakat dunia yang telah menerima cerita Nuh dari kaum Nasrani dan Yahudi. Kebaruan model cerita ini dari kebiasaan umum dikatakan pada Surat Asy Syuara ayat 5: “Dan tidak datang kepada mereka satu bahan pemikiran yang baru dari Ar-Rahman, melainkan mereka anggap sepele” (Dan sekali-kali tidak datang kepada mereka suatu peringatan baru dari Tuhan Yang Maha Pemurah, melainkan mereka selalu berpaling daripadanya – terjembahan Depag RI terbitan Toha Putra Semarang).

 

(eof – akhir dari tulisan berseri: Banjir Nabi Nuh)

redesained by j@uhar | Newsphere by AF themes.