Tue. Sep 29th, 2020

Naratama Online

Cepat, Tepat dan Tuntas

Tempat Pertama Kali Sang Merah Putih Berkibar Di Banten Itu Ramayana Mall

3 min read

Mal of Serang atau lebih dikenal sebagai Ramayana Mall. foto: Google

Berita kekalahan Jepang yang disusul Proklamasi kemerdekaan sampai ke Banten pada 20 Agustus 1945. Berita itu dibawa oleh para pemuda: Pandu Kartawiguna, Ibnu Parna, Abdul Muluk dan Azis, yang diutus oleh Chaerul Saleh, wakil ketua dan sekretaris Angkatan Pemuda Indonesia (API) yang bermarkas di Menteng 31 Jakarta. Para anggota API diutus ke berbagai daerah termasuk Banten untuk menyebarkan berita proklamasi.

Berita gembira itu terutama disampaikan kepada tokoh Banten yaitu K.H. Ahmad Chatib, K.H. Sjamun, dan Zulkarnain Surya, serta tokoh pemuda seperti Ali Amangku dan Ajip Dzuhri. Chaerul Saleh juga mengamanatkan agar para tokoh dan pemuda di Serang segera merebut kekuasaan dari Jepang. Maka, Ali Amangku mendirikan Angkatan Pemuda Indonesia (API). Sedangkan API Puteri dipimpin oleh Sri Sahuli.

“Sri Sahuli bersama Jimambang, temannya, adalah dua pemudi yang mempelopori penurunan bendera Jepang pada 22 Agustus 1945 di Hotel Vos Serang (sekarang kantor Kodim Serang) dan menggantinya dengan memasang sang saka Merah Putih. Dan sejak saat itu semua kantor pemerintahan maupun swasta di Banten mengibarkan Merah Putih,” tulis Matia Madjiah dalam Kisah Seorang Dokter Gerilya dalam Revolusi Kemerdekaan di Banten.

Dokter gerilya yang dimaksud adalah Satrio, dokter Divisi I Banten. Matia Madjiah sendiri dipindahkan dari Bandung Selatan ke Banten untuk membantu dr. Satrio sebagai komandan peleton kesehatan dengan pangkat letnan muda.

Menurut Halwany Michrob dan A. Mudjahid Chudari dalam Catatan Masa Lalu Banten, adanya penurunan bendera itu menunjukkan bahwa para pemuda semakin berani bertindak dan mulai giat menggerakkan kekuatan rakyat Banten untuk melucuti dan merebut kekuasaan dari tangan serdadu Jepang.

Sri Sahuli juga memberikan pelatihan PPPK (pertolongan pertama pada kecelakaan) kepada pemudi lulusan SMP. Dengan laskar wanitanya yang merupakan bagian dari API, Sri Sahuli membangkitkan semangat para pemudi di seluruh Banten.

“Sebagian dari anggotanya membantu tugas-tugas intel,” kata Matia Madjiah. “Sri Sahuli sendiri sering menyamar sebagai gadis desa, menyusup ke garis depan.”

Banyak pula anggota laskar wanita itu bekerja di dapur umum atau mendirikan pos-pos PMI. Para anggota PMI inilah yang banyak membantu tugas-tugas kesehatan tentara di garis depan, antara lain di Tenjo, Maja, Balaraja, Cikande, dan Jasinga.

sumber: historia.id

 

Dari Hotel VOS Jadi Kodim 0602, Sekarang Ramayana Mall

Sejumlah kalangan mendesak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang meninjau ulang pemberian izin lokasi pembangunan mal di Kompleks Markas Komando Distrik Militer (Kodim) 0602 Serang, Banten. Selain dianggap melanggar peruntukan lahan, lokasi pendirian mal itu merupakan lokasi cagar budaya.

“Sudah menjadi tanggung jawab kita semua untuk mencegah hilangnya lokasi cagar budaya hanya karena ambisi bisnis. Kami minta Pemkab Serang meninjau ulang izin pembanguan mal di Kompleks Kodim itu. Rencana ini harus ditolak,” kata Ketua Lembaga Advokasi Masalah Publik (LAMP), Sudaha, Minggu (13/3/2004) di Serang.

Suhada menyayangkan Pemkab Serang hanya melihat kepentingan bisnis semata tanpa mempertimbangkan faktor lain. Ia khawatir pemberian izin itu akan menghancurkan bangunan-bangunan bersejarah yang tersisa di Banten. Hal yang sama dikemukan IN. Rosyadi, Ketua Pusat Kajian Masyarakat Independen (PKMI) Banten.

“Lokasi cagar budaya itu dilindungi undang-undang, Pemberian izin itu jelas melanggar undang-undang,” katanya.

Pemkab Serang telah mengeluarkan izin lokasi pembangunan mal di Kompleks Markas Kodim 0602 Serang kepada PT Mandiri Maju Sentosa (MMS) berdasarkan Keputusan Bupati Serang No 15/SK. IL-I/ NF/DTRB/2004. Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Pemerintah Kabupaten Serang Agus Erwana mengatakan, pemberian izin lokasi itu didasarkan pada rencana tata ruang dan wilayah yang memasukkan Markas Kodim 0602 Serang sebagai kawasan perkantoran dan jasa perdagangan. Sebagai gantinya, kata dia, telah disiapkan lahan pengganti di Jalan Raya Pandeglang kilometer 3,6. Meski izin lokasi telah diberikan, Pemkab Serang masih mengkaji rencana pembangunan (site plan) yang diajukan PT MMS.

“Site plan itu akan diterbitkan setelah semua syarat- syaratnya terpenuhi, seperti izin lingkungan, amdal, dan sebagainya,” kata Agus.

Kepala Tim Kajian Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BPPP) Serang, Zakaria Kasimin mengatakan, bangunan Markas Kodim 0602 yang akan digusur oleh pembangunan mal itu termasuk benda cagar budaya peringkat lokal yang harus dilestarikan. Markas Kodim 0602 merupakan sebagian dari arsitektur kota lama dan salah satu bangunan bersejarah lainnya yang mengelilingi alun- alun Serang.

“Meski berperingkat lokal, bangunan itu bernilai sejarah karena menjadi tempat penurunan bendera Jepang saat Perang Kemerdekaan dan menjadi markas BKR (Badan Keamanan Rakyat, cikal bakal Tentara Keamanan Rakyat yang pada akhirnya menjadi TNI),” kata Zakaria.

BPPP telah mengeluarkan rekomendasi agar bangunan depan seluas 110 meter persegi harus dipertahankan karena termasuk benda peninggalan sejarah yang dilindungi undang-undang. Sesuai pasal 44 Peraturan Pemerintah Nomor 10/1993 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 5/1992 tentang Benda Cagar Budaya, pembangunan mal itu harus seizin Menteri Kebudayaan dan Pariwisata atau izin setingkat Asisten Deputi Urusan Purbakala dan Permuseuman.

sumber: tempointeraktif

Leave a Reply

redesained by j@uhar | Newsphere by AF themes.