Tue. Jul 14th, 2020

Naratama Online

Cepat, Tepat dan Tuntas

Gubernur Banten Versus Hantu Noni Belanda

3 min read

foto: Google

Sejak selesai dibangun tahun 16 April 2012, tak satu pun Gubernur Banten mau menempati rumah dinasnya. Baik itu Gubernur Atut Chosiyah, Rano Karno, PJ Nata Irawan mau pun Wahidin Halim. Sehingga Rumah Dinas (Rumdin) Gubernur Banten tampak sepi dan menyeramkan.

Padahal Rumdin itu telah menelan biaya lebih dari Rp16,14 miliar. Sebuah nilai yang tidak pernah terbayangkan Rakyat Banten, hanya untuk sebuah rumah tinggal. Nilai yang teramat sangat besar itu, menjadi kesia-siaan. Kosongnya rumdin menjadi lambang ketidak-pedulian semua Gubernur Banten dalam menggunakan uang rakyat.

Gubernur Atut Chosiyah berdalih, keadaan rumdin sepi dan menyeramkan. Sehingga memilih tetap tinggal di rumah pribadinya di Jl. Bhayangkara No 51 Kota Serang. Walau pun harus kehilangan hak sewa rumdin senilai Rp250 juta. (sumber: namakuddn)

Sedangkan PJ Nata Irawan beralasan masa jabatannya yang singkat, sehingga tetap memilih tinggal di Rumah Dinas Wakil Gubernur di Cipete, Kota Serang.

Gubernur Rano Karno secara berseloroh mengatakan, “Siapa yang mau tidur di sini (rumdin Gubernur, maksudnya), setannya ada tujuh belas”. (sumber: merdeka.com).

Kemudian Rano menjadikan Kawasan Rumdin Gubernur atau dikenal dengan nama Pendopo Lama menjadi Musium Negeri Provinsi Banten. Walau pada kenyataannya, hanya bangunan eks rumah Residen Banten yang dijadikan Musium. Sementara Rumdin Gubernur tidak dipakai apa-apa.

Gubernur yang paling banyak memberikan alasan adalah Gubernur Wahidin Halim. Dari alasan terlalu mewah, sepi hingga kondisi Rumdin dalam keadaan rusak. Sedangkan keberadaan hantu di Rumdin Gubernur, ditepis oleh Wahidin Halim.

“Katanya banyak setanlah. Banyak juriglah. Ada-ada saja. Masa banyakan setan daripada ASN. Kaya masih jaman Belanda aja mau ditakut-takutin,” kata Wahidin seperti dikutip dari rmol banten.

Walau pun menyatakan tidak takut pada isu hantu di Rumdin Gubernur, tetap saja Wahidin Halim menelantarkan rumdin itu lebih dari dua tahun (WH dilantik Mei 2017). Dan tetap saja tidak mau menempati Rumdin Gubernur. Malah berencanakan merubah nomenklatur Rumdin Gubernur menjadi Wisma Negara untuk menerima tamu-tamu kenegaraan atau pejabat pemerintah pusat. (sumber: centralnews).

Hantu Noni Belanda

Rumah Dinas Gubernur Banten bertempat di Kawasan Pendopo Lama Banten di depan Alun-Alun Kota Serang, bersebelahan dengan Pendopo Kabupaten Serang. Inti bangunan Pendopo Lama adalah gedung Residen Banten yang dibangun tahun 1821. Gedung ini sudah dinyatakan sebagai Benda Cagar Budaya.

Seperti umumnya gedung-gedung tua, Gedung Residen Banten pun tak lepas dari rumor ditempati hantu atau setan. Dua hantu paling populer dalam cerita warga di sekitar Gedung Residen Banten adalah hantu Noni Belanda dan Kereta Kencana.

Bahkan cerita hantu Noni Belanda sempat menjadi populer di media tahun 2014. Hantu Noni Belanda dikabarkan tertangkap CCTV saat pelaksanan test CPNSD di Pendopo Lama, Minggu 9 Nopember 2014.

Rita Prameswari, pegawai BKD Provinsi Banten dan rekan-rekannya sedang memeriksa semua peralatan yang akan dipakai dalam test CPNSD di ruang pertemuan Gedung Residen Banten, Minggu malam. Salah satu alat yang diperiksa adalah CCTV pengawas.

Tak disangka, dalam layar CCTV Rita melihat sosok perempuan dengan pakaian gaya eropa zaman kolonial berseliweran di ruang itu. Kemudian menghilang.

“Tapi wajahnya tidak nampak. Saya liatnya dari belakang,” ujar Rita seperti dikutip dari Poskotnews

Mitos Penguasa Banten Pemberi Kesejahteraan

Berbeda dengan kebanyakan orang Banten, orang Kanekes (Baduy) tidak memandang pusat kekuasaan ada di Surosowan (istana Kesultanan Banten). Tapi ada di sebidang tanah yang sejak tahun 1821 berdiri sebuah gedung, tempat tinggal Residen Banten. Sekarang menjadi Rumdin Gubernur yang selalu kosong melompong.

Sebidang tanah itu, diyakini orang Baduy sebagai tanah suci. Tanah tempat bermukimnya karuhun (arwah leluhur yang sudah meninggal) yang menentukan kesuburan tanah mereka. Tanah yang subur menghasilkan panen yang lebih dari cukup. Sehingga setiap usai panen, mereka melakukan ritual rasa terima kasih kepada karuhun yang tinggal di sebelah barat Alun-Alun Kota Serang. Ritual itu kemudian dikenal sebagai Seba Baduy.

Maka, siapa pun yang tinggal di sebidang tanah itu, akan dikunjungi orang Baduy seusai panen raya. Siapa pun yang tinggal di sebidang tanah itu, akan dianggap sebagai wakil dari karuhun yang telah menyuburkan tanah Kanekes. Mewakili penguasa Banten yang memberikan kesejahteraan bagi alam ini.

Bahkan jika pun sebidang tanah itu tak ada yang tinggal. Tak ada bangunan sama sekali, orang Kanekes (Baduy) tetap melakukan Seba ke sana. Mengucapkan terima kasih pada karuhun yang sudah menjaga alam mereka.

Ini sebenarnya makna budaya atau kearifan lokal Pendopo Lama atau dulu lebih dikenal dengan nama Keresidenan Banten. Lambang tempat tinggal penguasa Banten yang memberikan kesejahteraan pada rakyatnya.

Kini, tempat tinggal itu hanya dihuni hantu Noni Belanda. Ah, ini hanya rumor.

#Togogisme

Leave a Reply

redesained by j@uhar | Newsphere by AF themes.