Fri. Sep 25th, 2020

Naratama Online

Cepat, Tepat dan Tuntas

Dongeng Kapten Morgel; Pandangan Carbon Terhadap Kesultanan Banten

6 min read

foto: google

Dalam naskah tua Mertasinga Cirebon, ada dongeng tentang Kapten Morgel. Dongeng ini dimuat dalam Pupuh XVII.10-XVII.24, XVIII.02-XVIII.07, LII.12-LII.18, LV.17-LV.22, LVIII.12-LVIII.16, LIX.07-LIX.11, LIX.11-LIX.16, LIX.16-LIX.20, dan LXX.20-LXXI.11. Dongeng orang Belanda keturunan Sunda-Pajajaran yang ditakdirkan mengalahkan Kesultanan Banten dan menguasai raja-raja Jawa.

Kapten Morgel atau sekarang lebih sering disebut Kapten Mur (Mor), berasal dari kata Portugis; Capitao Mor. Kapten Morgel adalah sebutan untuk panglima tertinggi. Di era VOC di Hindia Belanda, Kapten Morgel adalah sebutan untuk pejabat Gubernur Jenderal. Misalnya Kapten Mur Jangkung atau Kapten Morgel Jangkung yang berasal dari nama Jan Coen yang dibaca Jangkung.

Kapten Morgel di era Hindia Belanda (VOC), tentunya tidak satu. Karena Gubernur Jenderal Hindia Belanda banyak. Kapten Morgel yang diceritakan naskah Mertasinga kemungkinan mulai dari Pieter Both, Gerard Reynst, Lauren Reael dan Jan Pieterszoon Coen (Jangkung).

Dalam Pupuh LXX.20-LXXI.11 disebutkan seorang Belanda bernama Kapten Morgel yang mendamaikan peperangan antara Kesultanan Banten dengan Kerajaan Mataram. Peperangan ini disebabkan pengangkatan Pangeran Ratu menjadi Sultan Banten oleh Sultan Mekah (Syarif Mekah sebagai otorisasi Kesultanan Turki dengan gelar Sultan Abdulmafakhir Mahmud Abdulkadir).

Raja Mataram murka dan tidak menerima pengangkatan Sultan Banten ini. Dalam pandangannya, setiap pengangkatan Sultan harus ada izin dari Mataram. Maka terjadilah peperangan Banten dan Mataram dalam beberapa tahun yang kemudian didamaikan Kapten Morgel.

Atas jasa mendamaikan ini, Kapten Morgel meminta upah sebidang tanah di Jayakarta untuk mendirikan gudang dan rumah. Permintaan ini dikabulkan Kesultanan Banten dan Mataram. Sementara Kesultanan Banten sendiri diwajibkan mengirimkan pasukan penjaga setiap tahunnya ke Mataram. Pasukan ini disebut pasukan Tugur.

Ketidak-cocokan Peristiwa

Di sini sebenarnya terjadi ketidak-cocokan peristiwa. Pengangkatan Pangeran Ratu menjadi Sultan di Banten oleh Syarief Mekah terjadi tahun 1638. Sedangkan pendirian pos dagang VOC di Jayakarta terjadi tahun 1610 oleh Pieter Both, Kapten Morgel pertama atau Gubernur Jenderal Hindia Belanda pertama.

Peperangan Banten dan Mataram yang diwakilkan pasukan Carbon terjadi tahun 1648. Sepuluh tahun setelah pengangkatan Sultan Banten. Alasan peperangan pun akibat penolakan Sultan Banten untuk takluk ke Mataram. Peperangan ini dimenangkan Banten. Sekitar 500 pasukan Carbon tewas.

Sedangkan peperang Banten dan Mataram sebelum pengangkatan Sultan Banten oleh Syarief Mekah, terjadi saat wafatnya Maulana Yusuf tahun 1580. Sebenarnya bukan perang antara Banten dan Mataram, tapi lebih tepatnya perang antara Banten dan Jepara.

Saat itu, Maulana Muhammad pengganti Maulana Yusuf baru berumur 5-7 tahun. Pangeran Jepara bin Pati Unus, ipar Maulana Yusuf merasa lebih berhak atas tahta Kesultanan Banten ketimbang membentuk Wali Raja. Maka datanglah Pangeran Jepara ke Banten bersama pasukannya, termasuk Kiai Demang Laksamana yang ikut perang melawan Portugis di Malaka.

Keinginan Pengaren Jepara ini dimentahkan oleh koalisi Kadhi, Senapati Pontang, Dipati Jayanegara, Ki Waduaji dan Ki Wijamanggala yang membentuk lembaga Wali Raja. Perang pun terjadi di luar tembok benteng Keraton. Wali Raja memenangkan peperangan ini. Pangeran Jepara mundur kembali ke Jepara.

Awal Batavia

Walau pun peperangan yang dimaksud dalam naskah Mertasinga itu tidak tepat, namun berdirinya pos dagang Belanda (VOC) di Jayakarta (1610) memang di era Pangeran Ratu jadi Raja Banten; belum jadi sultan. Lebih tepatnya di era Wali Raja Pangeran Ranamanggala (1609-1624). Karena Pangeran Ratu masih kecil. Saat diangkat jadi raja Banten(1596), Pangeran Ratu masih berumur bulanan (bayi).

Pos dagang VOC berupa bangunan kayu berpondasi batu ini, tahun 1911 dikembangkan pergudangan dan pemukiman. Kapten Morgel (Pieter Both) menyewa lahan 1,5 hektar ke Pangeran Jayakarta.

Ketika Jan P Coen diangkat jadi Gubernur Hindia Belanda di tahun 1618, Wali Raja Pangeran Ranamanggala sedang melancarkan pelarangan dagang lada di Banten. Maka pos dagang VOC di Jayakarta menjadi tumpuan utama pedagang-pedagang China untuk menjual lada.

Kapten Morgel Jangkung pun melancarkan strategi: Menghentikan pembelian lada dari Banten dan mengancam memindahkan pabrik-pabrik VOC di Banten. Para pedagang China panik, sehingga mau menerima penjualan lada dengan harga 50% saja.

Dampak tindakan Kapten Morgel ini tentu merugikan perdagangan Inggris. Maka kapal-kapal Banten dan Inggris bersepakat menyerang kapal-kapal China yang menuju Jayakarta. Kapten Morgel memandang hal ini sebagai tindakan awal Inggris mengusir VOC di Jawa. Maka Kapten Morgel pun memerintahkan secara diam-diam mengubah pos dagang menjadi benteng batu. Lalu menyerang benteng pertahanan Jayakarta dan menghancurkan pos dagang Inggris di dekatnya.

Hal ini diketahui Pangeran Jayakarta yang kemudian meminta bantuan Inggris untuk membantu menghancurkan benteng VOC di Jayakarta. 11 Kapal Inggris memblokade Teluk Jayakarta. Dilawan 7 kapal VOC. Pertempuran terjadi selama 3 jam. VOC kalah dan Kapten Morgel mundur ke Maluku, pusat kegiatan VOC.

Di darat, ribuan pasukan gabungan Jayakarta dan Inggris mengepung benteng VOC yang dijaga hanya sekitar 100 orang. Kemenangan pasukan gabungan ini sudah di depan mata. Tiba-tiba pasukan Banten datang. Jumlah berlipat kali pasukan gabungan. Bukannya membantu menghancurkan benteng VOC, pasukan Banten malah menyatakan Jayakarta sebagai daerah kekuasaannya.

Benteng VOC pun selamat dari kehancuran. Raja Jayakarta dicopot dari jabatannya dan pasukan Inggris mundur kebingungan.

28 Mei 1619, Kapten Morgel Jangkung kembali dari Maluku ke benteng VOC di Jayakarta; Batavia. 2 hari kemudian dengan 1.000 pasukan menaklukan Jayakarta. Korbannya hanya 1 tentara tewas. Jayakarta pun jatuh ke dalam kekuasaan VOC.

Kapten Morgel memindah pusat kegiatan VOC di Hindia Belanda ke benteng Batavia. Dari sini, secara bertahap VOC menguasai dan menaklukan raja-raja di Nusantara. Kesultanan Banten, Mataram, termasuk Carbon.

Pandangan Carbon

Dongeng Kapten Morgel diduga merupakan pendapat penulis naskah Mertasinga terhadap kekuasaan Belanda (VOC) di Nusantara. Penulis naskah Mertasinga sepertinya menyalahkan Kesultanan Banten. Karena tindakan pasukan Banten yang melindung benteng Batavia itu yang menjadi cikal bakal berkuasanya Belanda (VOC) di Nusantara.

Alasan tudingan ini adalah karma pendiri Kesultanan Banten, Syeh Maulana yang merebut tahta Banten dari Pucuk Umum. Seperti diceritakan dalam Pupuh XVII.10-XVII.24, Syeh Maulana yang bergelar Prabu Gelereng Erang, Arya Lumajang dan Raja Lahut (Penguasa Jayakarta/Pangeran Jayakarta) mendatangi Pasowan Jaba tempat tinggal Pucuk Umum.

Ketika Pucuk Umum akan kabur, tiba-tiba saja sudah dijepit jempol Syeh Maulana. Akhirnya Pucuk Umum menyerah, lalu masuk Islam. Begitu juga dengan bala tentaranya. Maka berakhirlah ajaran Buddha di tanah Pajajaran.

Tapi adiknya Pucuk Umum, Dewi Mandapa dapat meloloskan diri. Dendam kesumat menggelorakan dalam dirinya. Syeh Maulana, Arya Lumajang dan Raja Lahut dan keturunannya harus mendapat ganjaran yang sama. Dijajah.

Dendam ini membawa Dewi Mandapa tiba di Gunung Padang, tempat tinggal Ki Ajar Sukarsa. Oleh Ki Ajar, Dewi Mandapa disuruh bertapa di pohon Pinang yang dijalari pohon Sirih. Tapa hingga ada daun Sirih kering yang jatuh ke pusarnya.

“Makanlah daun itu. Ananda akan hamil dan melahirkan bayi. Berilah nama Dewi Tanuran Gagang. Ia akan tumbuh jadi putri yang cantik jelita. Tapi tak seorang pun bisa menyetubuhinya. Karena saat akan disetubuhi, parjinya akan mengeluarkan hawa panas yang berkobar-kobar. Kecuali seorang Belanda. Inilah jalan Belanda memerintah dan menguasai raja-raja Jawa,” ujar Ki Ajar (Pupuh XVIII.02-XVIII.07).

Ki Ajar Sukarsa menjodohkan Dewi Tanuran Gagang dengan Pangeran Tlutur, anak Raja Lahut. Sayangnya hubungan suami-istri Tlutur dan Dewi Tanuran terganggu. Seperti ucapan Ki Ajar, Dewi Tanuran tidak bisa disetubuhi. Dewi Tanuran mengikuti Pangeran Tlutur ke Carbon, Tlutur pun merelakan Dewi Tanuran disunting Pangeran Carbon, cucu Sinuhun.

Hal yang sama pun mengganggu hubungan suami-istri Pangeran Carbon dan Dewi Tanuran. Sewaktu seba ke Mataram, Dewi Tanuran ditukar dengan Ratu Sidapulin. Dari Ratu Sidapulin ini, Pangeran Carbon beranak Pangeran Manis dan Ratu Setu.

Tidak bisa disetubuhinya Dewi Tanuran sungguh mengganggu Sunan Mataram. Niatnya Dewi Tanuran akan dibunuh. Atas saran Sunan Kalijaga, Dewi Tanuran dijual ke pedagang Belanda. Dewi Tanuran ditukar dengan 3 buah meriam; Ki Sapujagat yang disimpan di Mataram, Ki Antu di Carbon dan Ki Amuk di Betawi.

Di Belanda pun, masalah yang sama terjadi. Sehingga Dewi Tanuran harus berganti-ganti suami. Akhirnya bertemulah dengan Raja Ngladiwasa, orang Belanda yang tinggal di Inggris. Dari Raja Ngladiwasa inilah, Dewi Tanuran mempunyai keturunan yang kemudian menjadi Kapten Morgel.

Kapten Morgel ini yang mendirikan kekuasaan (baca: jajahan) Belanda di Nusantara. Apakah itu Pieter Both? Jan P Coen? Atau Speelman? Entahlah. Karena tak satu pun naskah atau dokumen ada Gubernur Jenderal Hinda yang keturunan Sunda.

= disadur secara bebas dari Naskah Mertasinga, Amman N Wahju; Banten: Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII, C Guillot; Tionghoa Dalam Pusaran Politik, Benny G Setiono; Nusantara: Sejarah Indonesia, Bernard HM Viekke; Historia id dan lainnya.

#Togogisme

Leave a Reply

redesained by j@uhar | Newsphere by AF themes.